Jumat, 21 November 2014

Cerdas Memilih Permainan yang Merangsang Kecerdasan Anak



LEGO EDUCATION Dolls Family Set [9215] Berbagai penelitian membuktikan, bermain merupakan stimulasi efektif dalam menunjang tumbuh kembang optimal anak. Dua orang psikolog, Jerome Bruner dan Brian Sutton-Smith, peneliti perkembangan kognitif manusia mengatakan; bermain menghasilkan atmosfer santai, sehingga anak dengan mudah belajar berbagai cara untuk mengatasi masalah yang ditemuinya ketika bermain. Kesimpulannya pada saat bermainlah anak sering terlibat dalam proses pemecahan masalah.

Bermain adalah dunia anak yang paling dominan. Bahkan, untuk dapat lebih maksimal dalam menyampaikan pelajaran, pendidikan anak usia dini menerapkan sistem belajar sambil bermain. Hal ini disebabkan oleh kemampuan dari otak anak itu sendiri yang sedang gemar melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti bermain.Maka dari itu, metode pembelajaranpun harus disesuaikan dengan kemampuan anak-anak sesuai usianya.

Sabtu, 15 November 2014

Menggagas Masyarakat Ramah Pendidikan



Membicarakan pendidikan di Indonesia, serasa tak ada habisnya. Sayangnya sebagian besar dari bahan pembicaraan bertemakan keprihatinan. Beranjak dari satu bentuk keprihatinan ke bentuk keprihatinan lainnya. Mulai dari rendahnya ketersediaan dan kualitas sarana fisik, minimnya prestasi, kebijakan yang tidak kondusif hingga rendahnya kualitas guru. Siapa yang paling bertangungjawab pada semua ini, telunjuk kita pun segera mengarah pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
 
Negara ini ada, salah satu tujuannya adalah mencerdaskan kehidupan warga negaranya.  Melalui kecerdasan, bangsa ini memiliki kemampuan bersaing. Berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa manapun di dunia. Melalui hal itu, kebanggaan menjadi bagian dari bangsa ini menjadi keniscayaan.
Pengemban langsung amanah ini adalah lembaga pendidikan formal.  Secara structural, tudingan tersebut di atas  tidak salah, namun mengingat realitas persoalan pendidikan di negeri ini, itu tak sepenuhnya benar. Problematika pendidikan di negeri ini sangat kompleks, tetapi bukan berarti tidak bisa diurai. Butuh kebijakan yang komprehensif, konsisten dan kontinyu pengambil kebijakan, dan tentu saja dukungan masyarakat.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Guru yang memancarkan energi ( bagian 2 )

Guru yang Rajin mendengar dan Peduli
SEbagai guru saya yakin sebagian waktu Anda habiskan untuk berbicara, namun kali ini saya menganjurkan untuk mendengar. Saya sama sekali tidak ingin mengurangi porsi Anda berbicara di depan kelas, tetapi mendengar yang saya maksudkan adalah bagaimana Anda peduli pada setiap hal menyangkut siswa Anda.
Peduli bukan pula berarti Anda menuruti apa yang menjadi kemauan siswa Anda. Mendengar dan peduli yang saya maksudkan adalah Anda mengerti bahwa setiap siswa Anda memiliki latar belakang yang berbeda. Dengan mendengar dan peduli Anda tidak gampang untuk menghakimi.

Jika siswa Anda tak mendapatkan nilai bagus untuk pelajaran Anda, jangan serta merta melAkukan justifikasi. Saya pernah menegur seorang Anak karena nilai pelajaran saya selalu jelek, dan saat menegur saya mengatakan bahwa dia tidak belajar. Responnya sungguh di luar dugaan saya, dia marah, karena dia merasa sudah sungguh-sungguh belajar, jika hasilnya jelek ia pun tidak tahu. Melihat keseriusannya menanggapi teguran, saya benar-benar menyesal telah mengatakan hal itu. Belakangan saya baru mengetahui bahwa ternyata cara belajarnya yang tidak tepat. Ia hanya menghafal tanpa memahami konsep-konsepnya sehingga ketika saya mengujikan sesuatu yang berbeda walaupun secara prinsip sama dia tidak bisa menjawab. Hal tersebut saya ketahui setelah secara pribadi saya memberi pendekatan khusus padanya.
Mendengar dan sekaligus peduli pada apa yang kita dengar memberi peluang bagi kita untuk melakukan perubahan. Perubahan yang tentu saja menuju kearah perbaikan kualitas. Sebagai manusia memang kita memiliki banyak keterbatasan, namun jika ada hal yang memang sesungguhnya bisa kita lakukan hanya saja kita belum tahu, dengan banyak mendengar kita akan mengetahuinya.

 

Jumat, 25 September 2009

Guru yang Memancarkan Energi

Saat ini ada berapa banyak siswa yang apabila sehari saja tak masuk sekolah merasa ada sesuatu yang hilang dan merasa rugi? Bukan takut ketinggalan pelajaran, atau hukuman tetapi lebih dari itu. Saya yakin tak banyak, alasannya macam-macam, namun yang tak boleh dilupakan adalah peran figur sentralnya, guru.

Kemampuan guru menghidupkan kelas adalah factor yang menentukan apakah siswa belajar sesuatu atau tidak. Mungkin Anda berpikir bahwa hal ini hanya sesuai untuk pengajar ilmu social dan bukan ilmu exacta. Sama sekali bukan demikian, pengajar apapun Anda kemampuan Anda menghidupkan kelas adalah kunci agar siswa Anda belajar tentang hal-hal yang Anda ajarkan. Persoalannya bagaimana caranya, itu yang tidak mudah. Banyak buku telah ditulis dan banyak seminar sudah dilakukan membahas masalah ini. Namun tetap saja persoalan ini tak kunjung tuntas. Melalui tulisan ini penulis mencoba share, tentang segala sesuatu yang ada dalam alam berpikir penulis ataupun hal-hal yang secara praktis telah penulis lakukan. Sebagai guru, penulis pun banyak memiliki kekurangan namun tak ada salahnya berbagi.

Rabu, 16 September 2009

Metode Pembelajaran Dialogis


Dunia pendidikan formal atau sekolah merupakan harapan bagi terciptanya proses pendidikan kritis yang ideal. Proses pendidikan yang didalamnya siswa dapat belajar secara komprehensif atau menyeluruh guna menunjang proses kehidupannya kelak. Proses belajar demikian tentu bukanlah proses belajar yang hegemonis yang segala sesuatunya di dominasi oleh guru, melainkan proses belajar yang dialogis sesuai prinsip primus interpares-nya Socrates.



Azyumardi Azra dalam suatu kesempatan menyatakan bahwa pendidikan yang banyak dilakukan di negeri ini adalah gaya bank (The Banking Concept of Education). Pendekatan gaya ini kurang memberi kesempatan pada pengembangan kualitas peserta didik secara maksimal. Pola komunikasinya lebih bersifat satu arah dengan guru sebagai figur sentral.



Jumat, 11 September 2009

Apa yang Membuat Saya Mantap Menjadi Guru?


Ini adalah tahun kesembilan saya menjadi guru, belum terlalu lama memang, namun bukan berarti kurang waktu untuk menyatakan diri bahwa ; Guru adalah profesi saya. Profesi yang dengan keyakinan mantap akan saya tekuni selama menjalani kehidupan di dunia ini. Jika pada awalnya memang penuh keraguan, namun seiring berjalannya waktu dan pelajaran hidup yang saya temui, saya meyakini profesi ini tidak sekedar menafkahi hidup saya namun membuat saya kaya raya.

Pengalaman-pengalaman yang merupakan puzzel kehidupan, yang membuat saya memiliki kebanggaan dengan sebutan guru pada diri saya itu diantaranya adalah apa yang akan saya paparkan berikut ini.



· Saya selalu mendapatkan sesuatu pada saat saya memberi. Anda punya uang, bagikan uang Anda secara percuma, saya yakin uang Anda akan habis. Namun tidak demikian dengan pengetahuan, saat Anda bagikan, pengetahuan Anda akan sesuatu semakin berkembang. Menakjubkan bukan, tanpa pengetahuan bisnis yang memadai saya ternyata telah menjadi investor yang selalu untung. Pertanyaan dan sanggahan murid-murid, terus memperkaya pengetahuan saya. Pengamatan mereka yang tak selalu sama dengan pengamatan saya, menambah wawasan dan paradigma saya dalam melihat sesuatu. Belum lagi jika murid-murid saya mulai membawa hal-hal baru bagi saya, sungguh menyenangkan.


Jumat, 04 September 2009

Menjadi guru ; pilihan dalam kebimbangan? Jelas tidak!




Dulu ketika aku kecil dan baru duduk di bangku SD saat guruku bertanya; “anak-anak cita-cita kalian kelak menjadi apa?” Hampir separuh dari isi kelas menjawab ingin menjadi guru. Apalagi di kalangan siswa cewek, kebanyakan memfavoritkan cita-cita tersebut.

Namun ketika seragam sudah berganti banyak yang kemudian merevisi cita-cita SDnya, bahkan ketika aku sudah duduk di bangku SMA cita-cita sebagai guru nyaris tak terdengar. Apalagi saat-saat aku sudah duduk di bangku kuliah, bahkan seseorang yang jelas-jelas sudah mengambil jurusan FKIP ataupun IKIP terang-terangan tak ingin menjadi guru. Diperparah lagi krisis identitas itu tidak hanya menyerang para calon guru tetapi juga institusi para calon guru. Lihat saja nyaris semua IKIP mereformasi dirinya menjadi Universitas yang tak melulu melahirkan seorang guru. Muncul pertanyaan, sebenarnya ada apa dengan profesi yang satu ini?