Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Guru. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Desember 2017

Guru Keren Itu, Berani Menghadirkan Aktris Korea ke Depan Kelas


Tulisan kali ini masih soal jadi guru di "zaman now" yang susah-susah gampang. Bagi guru yang baru saja lulus kuliah, mungkin jiwanya masih nyambung. Tetapi saya, yang meski oleh para alumni di bilang belum berubah dari zaman dulu, dalam banyak hal sudah nggak nyambung. Humor, salah satu metode yang bisa menjembatani gap antar generasi ternyata juga tidak selalu bisa jadi jembatan. Ada saja humor-humor yang tidak berhasil mengundang tawa, jadi garing. Padahal cerita humor yang saya ceritakan itu, jika saya ceritakan pada generasi saya, bisa jadi ketawanya nggak abis-abis. Coba, apa nggak ngeselin yang beginian?

 

Untuk menghadirkan tawa renyah saja, harus berjuang keras. Apalagi mengajarkan sesuatu yang membuat mereka jadi tidak sekedar tahu, tetapi paham. Perjuangannya bisa berlipat-lipat. Karena mengajar itu bukan soal menyampaikan materi, tetapi juga ada proses mengevaluasi materi yang sudah disampaikan. Belum lagi ditambah ada unsur pendidikan di dalamnya, jadi mesti mengkaji juga dari aspek nilai-nilainya bagi kehidupan. Pokoknya kompleks.

Persis sama seperti dunia medsos, anak-anak "zaman now" itu suka informasi yang sepotong-sepotong. Pendek-pendek. Mereka menghidupi dunia yang serba praktis. Jangan harap dapat menghardik mereka dengan pendekatan kekuasaan ; "gue guru loe murid, dengerin!" Bisa jadi kita dibully di medsos mereka, dan dijadiin memelucu.  Meski kita juga nggak tahu, siapa yang mereka maksud itu. Semuanya serba tersamar dengan menggunakan bahasa HTML ala mereka.

Menyiasati itu, saya bikin lucu-lucuan sekalian. Habis jika mau dibilang serius, modalnya pengetahuan pas-pasan. Mungkin saja ini menabrak pakem,tetapi selama masih dalam koridor konteks, masih bisalah ditolerir. Untuk menarik perhatian, adakalanya saya menghadirkan aktris-aktris Korea ke kelas, atau aktor kartun Jepang. Padahal modal saya pas-pasan, pengetahuan copy paste dan sedikit edit. Jadilah cerita sejarah dan pengajaran sejarah dalam bingkai komik actris Korea atau kartun Jepang, juga beberapa video pembelajaran. Sejauh ini sih masih pakai aplikasi gratisan. Lagi pula ini bukan usaha komersial.

gambar pribadi
Dok Pribadi

Hasilnya, lumayan. Anak-anak bisa juga cengar-cengir tetapi tetap serius melihat dan mengerjakan yang saya tugaskan. Ada saja yang dalam hatinya mungkin bilang ; "ah guru gue norak." Tetapi biar saja, yang penting dapat menjembatani jiwa zaman yang terus bergerak. Karena yang menguatkan, ada saja yang bilang ; "bapak keren!" Ini semua, demi merebut perhatianmu nak!

Sumber tulisan :  Kompasiana


Sabtu, 24 Oktober 2009

Guru yang memancarkan energi ( bagian 2 )

Guru yang Rajin mendengar dan Peduli
SEbagai guru saya yakin sebagian waktu Anda habiskan untuk berbicara, namun kali ini saya menganjurkan untuk mendengar. Saya sama sekali tidak ingin mengurangi porsi Anda berbicara di depan kelas, tetapi mendengar yang saya maksudkan adalah bagaimana Anda peduli pada setiap hal menyangkut siswa Anda.
Peduli bukan pula berarti Anda menuruti apa yang menjadi kemauan siswa Anda. Mendengar dan peduli yang saya maksudkan adalah Anda mengerti bahwa setiap siswa Anda memiliki latar belakang yang berbeda. Dengan mendengar dan peduli Anda tidak gampang untuk menghakimi.

Jika siswa Anda tak mendapatkan nilai bagus untuk pelajaran Anda, jangan serta merta melAkukan justifikasi. Saya pernah menegur seorang Anak karena nilai pelajaran saya selalu jelek, dan saat menegur saya mengatakan bahwa dia tidak belajar. Responnya sungguh di luar dugaan saya, dia marah, karena dia merasa sudah sungguh-sungguh belajar, jika hasilnya jelek ia pun tidak tahu. Melihat keseriusannya menanggapi teguran, saya benar-benar menyesal telah mengatakan hal itu. Belakangan saya baru mengetahui bahwa ternyata cara belajarnya yang tidak tepat. Ia hanya menghafal tanpa memahami konsep-konsepnya sehingga ketika saya mengujikan sesuatu yang berbeda walaupun secara prinsip sama dia tidak bisa menjawab. Hal tersebut saya ketahui setelah secara pribadi saya memberi pendekatan khusus padanya.
Mendengar dan sekaligus peduli pada apa yang kita dengar memberi peluang bagi kita untuk melakukan perubahan. Perubahan yang tentu saja menuju kearah perbaikan kualitas. Sebagai manusia memang kita memiliki banyak keterbatasan, namun jika ada hal yang memang sesungguhnya bisa kita lakukan hanya saja kita belum tahu, dengan banyak mendengar kita akan mengetahuinya.

 

Jumat, 25 September 2009

Guru yang Memancarkan Energi

Saat ini ada berapa banyak siswa yang apabila sehari saja tak masuk sekolah merasa ada sesuatu yang hilang dan merasa rugi? Bukan takut ketinggalan pelajaran, atau hukuman tetapi lebih dari itu. Saya yakin tak banyak, alasannya macam-macam, namun yang tak boleh dilupakan adalah peran figur sentralnya, guru.

Kemampuan guru menghidupkan kelas adalah factor yang menentukan apakah siswa belajar sesuatu atau tidak. Mungkin Anda berpikir bahwa hal ini hanya sesuai untuk pengajar ilmu social dan bukan ilmu exacta. Sama sekali bukan demikian, pengajar apapun Anda kemampuan Anda menghidupkan kelas adalah kunci agar siswa Anda belajar tentang hal-hal yang Anda ajarkan. Persoalannya bagaimana caranya, itu yang tidak mudah. Banyak buku telah ditulis dan banyak seminar sudah dilakukan membahas masalah ini. Namun tetap saja persoalan ini tak kunjung tuntas. Melalui tulisan ini penulis mencoba share, tentang segala sesuatu yang ada dalam alam berpikir penulis ataupun hal-hal yang secara praktis telah penulis lakukan. Sebagai guru, penulis pun banyak memiliki kekurangan namun tak ada salahnya berbagi.