<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2203270279597566761</id><updated>2012-02-16T16:39:22.267-08:00</updated><category term='ujian akhir nasional'/><category term='Metode Mengajar'/><category term='Tips menjadi guru'/><category term='Inspirasi Guru'/><category term='profesi guru'/><title type='text'>guru merdeka</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jelasguru.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>gurumerdeka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11106180665587401728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqIBNJqvIyI/AAAAAAAAAAY/eOVtS9YEjew/S220/Bandung+1.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2203270279597566761.post-3746147692954291946</id><published>2010-01-29T12:13:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T12:25:36.108-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ujian akhir nasional'/><title type='text'>Menimbang Plus Minus UAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/S2NCvlz6UaI/AAAAAAAAABY/F2ZdGayNsGg/s1600-h/ujian.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 190px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/S2NCvlz6UaI/AAAAAAAAABY/F2ZdGayNsGg/s200/ujian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5432258960910078370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak pemerintah mencanangkan hasil UAN sebagai standar kelulusan, pro kontra merebak di berbagai kalangan. Bahkan ada yang memperkarakannya melalui jalur hukum dengan membawanya ke pengadilan, dan di tingkat MA tuntutan mereka dimenangkan. Namun hingga hari ini pemerintah tetap pada pendiriannya, melanjutkan penyelenggaraan UAN dan menjadikannya sebagai standar kelulusan, meski dengan mengadakan ujian ulang bagi yang gagal. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, begitulah kira-kira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa pemerintah bersikeras menyelenggarakan UAN dan menjadikannya sebagai standar kelulusan, walaupun menimbulkan pro kontra dan telah banyak memakan ‘korban’ , bahkan DPR pun pernah mengancam tidak akan menyetujui anggaran yang diperuntukkan bagi penyelenggaraan perhelatan tersebut? Ada banyak alasan pembenar dalam perspektif pemerintah, demikian pula sebaliknya bagi mereka yang tidak sepakat.&lt;br /&gt; Membangun dunia pendidikan sebagai implementasi salah satu tujuan Negara yang tertuang dalam Mukadimah UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, adalah sebuah keharusan. Amanat yang masih merupakan gambaran ideal perlu disikapi melalui tindakan praktis yang lebih operasional, dan UAN sepertinya diyakini sebagai salah satu perangkat yang digunakan untuk mencapai kondisi ideal tersebut. Perlu ada satu bentuk gambaran profil bagi mereka yang telah mengeyam pendidikan persekolahan di Indonesia. Setidaknya terdapat standar kualifikasi pengetahuan yang berskala nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan demikian seharusnya bukanlah sesuatu yang berlebihan, mengingat pemerintah dalam menyelenggarakan proses pendidikan menggunakan kurikulum yang sama. Artinya dalam kualifikasi standar yang paling dasar dalam proses pembelajaran di sekolah pemerintah telah memiliki acuannya. Namun persolan muncul saat ; bagaimana kurikulum itu dijalankan, mengingat berbagai persoalan kesenjangan di negeri ini.&lt;br /&gt; Proses berbeda mengapa diukur sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan pendidikan Indonesia, tentu tidak hanya membicarakan Jawa atau Jakarta, tetapi bicara Sabang sampai Merauke, dari kota besar seperti Jakarta hingga daerah terpencil di Puncak Jaya sana. Sebaran wilayah yang begitu luas dan sumber daya yang beragam, menjadi realitas yang tak terbantahkan dalam penyelenggaraan proses pendidikan di lembaga yang bernama sekolah di negeri ini. Walau sebenarnya bicara kota besar  seperti Jakarta saja, ada begitu banyak kesenjangan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah kaya, akan sangat mudah menyelenggarakan proses pendidikan yang berkualitas namun disisi yang lain banyak juga sekolah yang tak berani mengharuskan siswanya memiliki buku pelajaran, karena orangtuanya akan lebih senang anaknya berhenti sekolah dari pada harus ngutang kesana-kemari untuk memenuhi tuntutan tersebut. Kondisi yang berbeda ini secara kasat mata saja sudah  menunjukkan bahwa terdapat kualifikasi proses kualitas yang berbeda. Menjadi ironis apabila dalam penyelenggaraan proses yang berbeda ini diukur dengan ukuran standar yang sama saat menentukan lulusan. Menjadi tidak adil tentunya bagi keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sekolah ‘pinggiran’ UAN menjadi ancaman serius atas status mereka berikutnya, karena apa yang mereka pelajari dengan segala keberadaannya seringkali tak memberi bekal yang cukup bagi siswa menyelesaikan soal-soal UAN. Padahal sekolah-sekolah demikian keberadaannya tak melulu karena factor ekonomi alias berorientasi pada profit, melainkan tekad dari segelintir relawan yang menginginkan semua masyarakat di negeri ini dapat mengeyam pendidikan yang semestinya menjadi tanggung jawab pemerintah. Alasan bahwa UAN dapat menjadi filter bagi sekolah yang tak semestinya dalam penyelengagaraan prosesnya akan ‘hilang’ secara alamiah menjadi tak relevan pada kondisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sekolah kaya atau sekolah negeri yang berkualitas yang dalam banyak hal diurus oleh Negara, menjadi ironi tersendiri saat UAN dijadikan sebagai standar kelulusan. Namun proses yang sedemikian berkualitas hanya akan disandingkan secara rata-rata dengan proses yang biasa-biasa saja. Sementara jika mereka membangun criteria sendiri, tak kan berarti terlalu signifikan sebab pada tingkat lanjutan yang dinilai bukan bagaimana mereka berproses tetapi hasil akhir yang bernama ijasah, yang dalam banyak hal seringkali nilai yang tertera tak terlalu terpaut antara pendidikan yang terakreditasi atau tidak sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang akan menjadi dilemma tersendiri apabila pemerintah membiarkan saja setiap sekolah membangun kriterianya sendiri bagi penentuan kelulusan sekolahnya, jika sementara lembar ijasah yang mereka keluarkan juga merupakan kertas yang sama dengan keseluruhan sekolah di negeri ini. Sehingga nilai tujuh antara sekolah yang tidak berkualitas dengan nilai tujuh dari sekolah yang berkualias harus dimaknai sama, meski dalam kemampuan sesungguhnya sangat berbeda. Untuk negeri seperti Indonesia kebebasan sedemikian masih sangat rawan dengan penyimpangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi ruang pada setiap sekolah untuk mempunyai kriterianya sendiri dalam menentukan kelulusan dan menjadikan UAN murni sekedar pemetaan kualitas, bisa saja dilakukan namun dijenjang selanjutnya bagaimana? Tanpa apresiasi pada sekolah berkualitas dalam prosesnya melalui penilaian khusus bagi lulusannya, hanya akan menjadikan sekolah tersebut sebagai sekolah yang ‘payah’. Sulit namun alumninya sama saja dengan sekolah yang biasa-biasa saja. Masuk PT tetap mengikuti jalur seperti sekolah-sekolah pada umumnya, jika demikian apa kelebihannya? Sehingga hal ini dapat mendorong sekolah-sekolah tersebut menyelenggarakan proses yang standar-standar saja. Jika suda demikian maka negeri ini akan kehilangan lokomotif yang semestinya dapat menarik keterpurukan kualitas pendidikan di negeri ini. Untuk mengatasi hal demikian, pemerintah mesti membangun system yang berkelanjutan, dan memaksimalkan peran dan tentu saja menjadikan hasil dari akrediasi sebagai dasar dalam menentuan criteria bagi sekolah. Jika sekolah A mendapatkan akreditasi A maka sekolah tersebut diberi kewenangan-kewengan tertentu oleh pemerintah yang diakui secara nasional, demikian juga dengan sekolah yang berakreditasi B, C atau D sekalipun, tentunya dengan klasifikasi kewenangan yang berjenjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadikan UAN sebagai sarana pemetaan kualitas tanpa harus menjadi penentu kelulusan dan mengoptimalkan peran BNSP dan hasil akreditasi seperti pada PT adalah solusi yang bisa dilakukan. Sehingga tak ada lagi yang merasa terancam dengan adanya UAN, disamping itu hal tersebut akan menjadi satu bentu pembelajaran tersendiri bagi masyarakat dalam menentukan pilihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2203270279597566761-3746147692954291946?l=jelasguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelasguru.blogspot.com/feeds/3746147692954291946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/2010/01/menimbang-plus-minus-uan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default/3746147692954291946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default/3746147692954291946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/2010/01/menimbang-plus-minus-uan.html' title='Menimbang Plus Minus UAN'/><author><name>gurumerdeka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11106180665587401728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqIBNJqvIyI/AAAAAAAAAAY/eOVtS9YEjew/S220/Bandung+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/S2NCvlz6UaI/AAAAAAAAABY/F2ZdGayNsGg/s72-c/ujian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2203270279597566761.post-3509301906250277759</id><published>2009-10-24T05:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-24T05:40:08.619-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips menjadi guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi Guru'/><title type='text'>Guru yang memancarkan energi  ( bagian 2 )</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SuLwvErd_oI/AAAAAAAAABQ/1kpe-W03bF8/s1600-h/care+teacher.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396139995043856002" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 140px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SuLwvErd_oI/AAAAAAAAABQ/1kpe-W03bF8/s200/care+teacher.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Guru yang Rajin mendengar dan Peduli&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;SEbagai guru saya yakin sebagian waktu Anda habiskan untuk berbicara, namun kali ini saya menganjurkan untuk mendengar. Saya sama sekali tidak ingin mengurangi porsi Anda berbicara di depan kelas, tetapi mendengar yang saya maksudkan adalah bagaimana Anda peduli pada setiap hal menyangkut siswa Anda.&lt;br /&gt;Peduli bukan pula berarti Anda menuruti apa yang menjadi kemauan siswa Anda. Mendengar dan peduli yang saya maksudkan adalah Anda mengerti bahwa setiap siswa Anda memiliki latar belakang yang berbeda. Dengan mendengar dan peduli Anda tidak gampang untuk menghakimi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika siswa Anda tak mendapatkan nilai bagus untuk pelajaran Anda, jangan serta merta melAkukan justifikasi. Saya pernah menegur seorang Anak karena nilai pelajaran saya selalu jelek, dan saat menegur saya mengatakan bahwa dia tidak belajar. Responnya sungguh di luar dugaan saya, dia marah, karena dia merasa sudah sungguh-sungguh belajar, jika hasilnya jelek ia pun tidak tahu. Melihat keseriusannya menanggapi teguran, saya benar-benar menyesal telah mengatakan hal itu. Belakangan saya baru mengetahui bahwa ternyata cara belajarnya yang tidak tepat. Ia hanya menghafal tanpa memahami konsep-konsepnya sehingga ketika saya mengujikan sesuatu yang berbeda walaupun secara prinsip sama dia tidak bisa menjawab. Hal tersebut saya ketahui setelah secara pribadi saya memberi pendekatan khusus padanya.&lt;br /&gt;Mendengar dan sekaligus peduli pada apa yang kita dengar memberi peluang bagi kita untuk melakukan perubahan. Perubahan yang tentu saja menuju kearah perbaikan kualitas. Sebagai manusia memang kita memiliki banyak keterbatasan, namun jika ada hal yang memang sesungguhnya bisa kita lakukan hanya saja kita belum tahu, dengan banyak mendengar kita akan mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Guru yang memiliki Integritas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Integritas, apapun profesinya saya yakin sangat diharapkan keberadaannya, terlebih bagi Anda yang dalam banyak hal diharapkan mampu menjadi teladan, integritas hukumnya adalah wajib.&lt;br /&gt;Tidak mungkin rasanya jika Anda berada di sebuah kawah pendadaran yang diharapkan mampu melahirkan alumnus yang berkarakter tetapi Anda sendiri tidak memiliki integritas. Selain membahayakan ketiadaan integritas akan mengacaukan system sekolah tempat Anda berada itu sendiri. Mengapa integrias sedemikian berpengaruh?&lt;br /&gt;Pertama, integritas mencerminkan diri Anda, sebagai penanam nilai-nilai positif Anda bertanggungjawab penuh membekali peserta didik dengan ideal-ideal tertentu, jika Anda tidak memiliki integritas, apa jadinya? Inilah yang saya sebut sebagai mengacaukan system, karena secara sadar sekolah memiliki visi untuk menghasilkan alumni yang memiliki profil tertentu. Suka atau tidak Anda ada dalam system tersebut, maka Anda mesti menghidupi system nilainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Guru yang bersemangat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda masuk ke sebuah kelas lalu tiba-tiba mood untuk mengajar Anda hilang? Saya sering mengalami hal itu, dan belakangan saya memahami bahwa ada korelasi antara situasi suatu kelas dengan mood saya mengajar. Energi yang dipancarkan oleh kelas itu sepertinya bukan energi positif yang membawa saya pada situasi yang menyenangkan. Namun persoalannya kemudian adalah saya larut dalam energi negative tersebut, sehingga saya yang dipengaruhi dan tidak mempengaruhi. Sebagai guru semestinya saya tidak larut, namun saya mengubah yang negative itu menjadi positif. Bagaimana? Terus bersemangat!&lt;br /&gt;Sepertinya pernyataan tersebut klise, namun itu adalah kenyataan. Pernah dalam sebuah kesempatan saya melihat betapa tidak bersemangatnya kelas saya. Rasanya saya pun sangat malas untuk memulai, namun saya mencoba untuk tetap bersemangat. Saya tidak langsung masuk ke materi, saya mencoba jujur pada mereka apa yang juga saya rasakan. Hal ini ternyata menggugah mereka untuk memberi tanggapan, tanpa mereka sadari ini membuat perhatian mereka kembali tinggi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Guru yang selalu memiliki hal baru&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah perenungan, saya memiliki kerinduan untuk selalu memberikan hal baru bagi siswa saya di setiap kesempatan saya mebngajar di depan kelas. Mengapa saya berpikir demikian? Saya terinspirasi oleh beberapa seminar yang saya ikuti, terutama dalam training-training motivasi. Setelah mengikuti seminar saya selalu fresh dan puas, karena saya merasa selalu ada yang baru. Walaupun sesungguhnya hal-hal baru tersebut adalah sesuatu yang sangat sederhana, Cuma selama ini hal tersebut tidak terpikirkan. Berdasarkan hal itu saya beranggapan mengapa hal itu juga saya berlakukan untuk sesi-sesi saya, yaitu saat mengajar di kelas tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Guru yang bersahabat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Siswa kita bukanlah robot, mereka adalah mahluk sempurna sebagai manusia, memiliki kelebihan, perasaan dan tentu saja kekurangan. Aristoteles mengatakan, manusia secara alamiah adalah zoon politicon alias mahluk yang membutuhkan mahluk lain dalam menjalani dan memenuhi kebutuhan hidupnya.&lt;br /&gt;Sebagai manusia, mereka memiliki keinginan untuk diapresiasi, disayang, dianggap, atau intinya dimanusiakan. Sebagai pendidik Anda mesti menyadari benar kebutuhan-kebutuhan demikian. Sebagai guru saya sering mendengar siapa-siapa yang masih mereka ingat dari siswa-siswa mereka yang telah lulus. Selalu saja mereka yang berpredikat ter, terbaik atau terbadung, terpandai atau bahkan terbodoh. Untuk ter-ter yang positif, bagi kita mudah saja memberikan apresiasi. Namun bagi yang terlanjur negative, walaupun suatu kali dia berbuat positif, jangankan apresiasi yang terjadi justru kita curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ilustrasi foto diambil dari : &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.unl.edu/scarlet/v13n8/v13n8special.html"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;www.unl.edu/scarlet/v13n8/v13n8special.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2203270279597566761-3509301906250277759?l=jelasguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelasguru.blogspot.com/feeds/3509301906250277759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/2009/10/guru-yang-terus-memancarkan-energi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default/3509301906250277759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default/3509301906250277759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/2009/10/guru-yang-terus-memancarkan-energi.html' title='Guru yang memancarkan energi  ( bagian 2 )'/><author><name>gurumerdeka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11106180665587401728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqIBNJqvIyI/AAAAAAAAAAY/eOVtS9YEjew/S220/Bandung+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SuLwvErd_oI/AAAAAAAAABQ/1kpe-W03bF8/s72-c/care+teacher.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2203270279597566761.post-9100916889094346161</id><published>2009-09-25T03:12:00.000-07:00</published><updated>2009-09-27T09:11:29.999-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inspirasi Guru'/><title type='text'>Guru yang Memancarkan Energi</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SryY4Bu9-3I/AAAAAAAAABI/lCBAdBAWSaM/s1600-h/guru+berenergi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385347342733802354" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 142px; CURSOR: hand; HEIGHT: 195px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SryY4Bu9-3I/AAAAAAAAABI/lCBAdBAWSaM/s200/guru+berenergi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Saat ini ada berapa banyak siswa yang apabila sehari saja tak masuk sekolah merasa ada sesuatu yang hilang dan merasa rugi? Bukan takut ketinggalan pelajaran, atau hukuman tetapi lebih dari itu. Saya yakin tak banyak, alasannya macam-macam, namun yang tak boleh dilupakan adalah peran figur sentralnya, guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan guru menghidupkan kelas adalah factor yang menentukan apakah siswa belajar sesuatu atau tidak. Mungkin Anda berpikir bahwa hal ini hanya sesuai untuk pengajar ilmu social dan bukan ilmu exacta. Sama sekali bukan demikian, pengajar apapun Anda kemampuan Anda menghidupkan kelas adalah kunci agar siswa Anda belajar tentang hal-hal yang Anda ajarkan. Persoalannya bagaimana caranya, itu yang tidak mudah. Banyak buku telah ditulis dan banyak seminar sudah dilakukan membahas masalah ini. Namun tetap saja persoalan ini tak kunjung tuntas. Melalui tulisan ini penulis mencoba share, tentang segala sesuatu yang ada dalam alam berpikir penulis ataupun hal-hal yang secara praktis telah penulis lakukan. Sebagai guru, penulis pun banyak memiliki kekurangan namun tak ada salahnya berbagi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kesempatan ngobrol dengan seorang mahasiswi yang mengambil jurusan FKIP beberapa tahun yang lalu, wawasan saya sedikit bertambah. Saat itu dia mengatakan bahwa profesi guru itu unik, sebab dalam prakteknya ia memberi namun dalam banyak hal dia menerima. Kenapa demikian? Pertama peran guru adalah melakukan transfer of knowledge tetapi bukankah melalui transfer of knowledge itu seorang guru juga belajar dan terus mengasah kecerdasannya. Jika Anda memiliki uang dan uang itu Anda bagikan maka uang Anda akan habis, namun jika Anda memiliki ilmu dan Anda gunakan ilmu itu dengan cara membagikan, bukankah ilmu Anda semakin bertambah. SEpertinya hanya ilmu yang jika tak dipakai akan hilang dan semakin dipakai semakin terasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia juga menambahkan selain unik guru juga strategis, sebab merah kuning hijau isi kepala seseorang, guru sangat berperan mewarnainya. Jika keliru guru menanamkan nilai maka keliru pulalah seseorang berpikir dan bertindak, demikian pula sebaliknya.&lt;br /&gt;Berdasarkan pernyataan tersebut jelas betapa sentralnya peran guru bagi pengembangan diri seseorang yang menjadi siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah bertemu dengan seorang teman yang berkali-kali mengatakan bahwa ia masih mampu mengingat beberapa perkataan gurunya. Karena pernyataan sang guru mampu memberinya inspirasi, bahkan ketika guru itu menegurnya. Artinya peran guru tidak hanya sekedar sebagai pentransfer pengetahuan ia berperan lebih dari itu. Sosoknya juga memberi inspirasi atau memotivasi seseorang untuk mencapai tingkat kesuksesannya. Guru yang baik memberitahukan potensi siswanya yang seringkali mereka tidak sadari keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sebagai agen guru hanya mengantarkan hingga ke gerbang, mengenai bagaimana meraih kesuksesannya, seseorang harus mengasah dirinya sesuai kapasitas yang dimilikinya. Guru yang bijak bahkan mampu mengarahkan peserta didiknya untuk ‘melihat’ masa depan. Pertanyaannya bagaimana menjadi guru yang demikian?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. Guru yang terus belajar&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dunia terus berubah, setiap zaman memiliki keunikannya dan seringkali tak bisa disamakan dengan sesuatu yang pernah kita alami. Kehebatan masa lampau tak selamanya dapat dijadikan acuan, nilai-nilai terus bergeser, yang tabu dan tak tabu pun ikut pula berubah.&lt;br /&gt;Anak didik hidup dari setiap zaman yang berbeda, boleh jadi sebagai guru Anda ‘gaul’ persoalannya ‘gaul’ Anda itupun mesti dicermati. Jangan-jangan sudah basi. Sehingga yang terpenting adalah bukan pada bagaimana Anda tampil ‘gaul’ dihadapan siswa Anda tetapi seberapa besar sebagai guru kita ‘gaul’ pada apa yang kita pelajari alias pelajaran yang kita ajarkan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya pernah mendengar seorang teman berusaha tampil variatif di depan kelas tetapi pada akhirnya ia kecewa, sebab siswanya tidak merespon seperti apa yang ia harapkan. Untuk menarik perhatian ia menggunakan joke-joke lucu dan pertalian kata-kata yang unik, namun apa mau dikata joke-joke itu tak dihidupi oleh siswanya. Sehingga ia hanya tersenyum dan tertawa sendirian, konsentarasi dan moodnya mengajar tiba-tiba langsung hilang. Ujung-ujungnya dia balik lagi ke model lama, standar. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Menggauli’ pelajaran yang Anda ajarkan dalam kacamata pengetahuan saya adalah bagaimana kita mampu menguasai konsep dasar dari suatu materi. Dengan demikian dengan mudah Anda mampu menentukan sebuah pendekatan yang tentu saja ideal, tidak mesti terpatok pada sistematika baku. Anda mau berjalan mundur, maju atau menyamping semua terserah Anda yang penting esensinya tidak bergeser, sebab yang Anda pegang adalah konsepnya dan bukan kulitnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain konsep Anda juga mesti memahami telaah konstektualnya, untuk itu Anda mesti rajin mengupgrade diri. Sebab bagaimanapun setiap zaman memiliki kekhasannya, Anda tidak bisa melakukan generalisir dari satu zaman dengan zaman lainnya.&lt;br /&gt;Jadikanlah siswa sebagai sumber belajar Anda, pahami karakteristiknya ikuti cara berpikir zamannya, tanpa Anda kehilangan jati diri Anda dan semangat zaman Anda. Jika Anda mengalami kesulitan, belajar dan terus belajar adalah kata kuncinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. Guru yang selalu persiapan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Persiapan bukan hanya sekedar formalitas bahwa Anda telah membuat Satuan Pelajaran, Program Semester dan sebagainya, tetapi persiapan Anda ingin membagikan apa hari ini. Pancaran perasaan Anda sangat berpengaruh pada kegairahan Anda pada saat berbagi. Anda berhasil membohongi diri Anda mungkin, tetapi Anda tak bisa membohongi atmosfer kelas Anda. Sehingga persiapan yang saya maksudkan adalah persiapan total Anda. Mengenai materi yang akan Anda ajarkan, saya tak meragukan kemampuan Anda, tetapi bagaimana materi itu mampu memberi pencerahan, Anda perlu mempersiapkannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Persiapan adalah langkah awal membangun motivasi di dalam diri Anda. Di dalam persiapan Anda mengolah alur berpikir Anda dalam nuansa de javu yang akan membantu Anda mengerti beragam gejala yang akan terjadi. Sehingga melalui hal tersebut Anda sudah dapat mempersiapakan amunisi sebagai bekal Anda menghadapi beragam gejala tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Persiapan memberi ruang bagi Anda mendialogkan materi, atapun menentukan metode. Anda saya sarankan mencari tahu apa yang menjadi kebutuhan siswa Anda, sebab dari sanalah kita akan mengawali. Dengan demikian Anda akan memperlakukan setiap pribadi siswa Anda secara special, Anda membutuhkan sesuatu yang terus menerus baru. Karena baru Anda harus mematangkannya terlebih dahulu sebelum pada akhirnya Anda berdiri di depan kelas.&lt;br /&gt;Persiapan Anda secara tidak langsung akan berpengaruh pada rasa percaya diri Anda. Rasa percaya diri Anda saya yakin akan memancarkan energi yang positif bagi kelas yang Anda ajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bersambung……..&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ilustrasi foto diambil dari : &lt;a href="http://www.gcs1to1.co.kr/images/lp05.jpg"&gt;http://www.gcs1to1.co.kr/images/lp05.jpg&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2203270279597566761-9100916889094346161?l=jelasguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelasguru.blogspot.com/feeds/9100916889094346161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/2009/09/guru-yang-memancarkan-energi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default/9100916889094346161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default/9100916889094346161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/2009/09/guru-yang-memancarkan-energi.html' title='Guru yang Memancarkan Energi'/><author><name>gurumerdeka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11106180665587401728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqIBNJqvIyI/AAAAAAAAAAY/eOVtS9YEjew/S220/Bandung+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SryY4Bu9-3I/AAAAAAAAABI/lCBAdBAWSaM/s72-c/guru+berenergi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2203270279597566761.post-5345574675428010650</id><published>2009-09-16T07:12:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T07:28:12.992-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metode Mengajar'/><title type='text'>Metode Pembelajaran Dialogis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dunia pendidikan formal atau sekolah merupakan harapan bagi terciptanya proses pendidikan kritis yang ideal. Proses pendidikan yang didalamnya siswa dapat belajar secara komprehensif atau menyeluruh guna menunjang proses kehidupannya kelak. Proses belajar demikian tentu bukanlah proses belajar yang hegemonis yang segala sesuatunya di dominasi oleh guru, melainkan proses belajar yang dialogis sesuai prinsip primus interpares-nya Socrates.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SrDzLt8oYcI/AAAAAAAAABA/tQgOckAJd8Q/s1600-h/dialog+metode.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382068937345753538" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 245px; CURSOR: hand; HEIGHT: 145px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SrDzLt8oYcI/AAAAAAAAABA/tQgOckAJd8Q/s200/dialog+metode.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Azyumardi Azra dalam suatu kesempatan menyatakan bahwa pendidikan yang banyak dilakukan di negeri ini adalah gaya bank (The Banking Concept of Education). Pendekatan gaya ini kurang memberi kesempatan pada pengembangan kualitas peserta didik secara maksimal. Pola komunikasinya lebih bersifat satu arah dengan guru sebagai figur sentral.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ciri-ciri dari pendidikan gaya bank ini adalah :&lt;br /&gt;1. Guru mengajar, murid diajar,&lt;br /&gt;2. Guru mengetahui sesuatu dan murid tidak mengetahui apa-apa,&lt;br /&gt;3. Guru berpikir dan murid dipikirkan,&lt;br /&gt;4. Guru bercerita dan murid patuh mendengarkan,&lt;br /&gt;5. Guru menentukan peraturan dan murid diatur,&lt;br /&gt;6. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui,&lt;br /&gt;7. Guru berbuat,murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya,&lt;br /&gt;8. Guru memilih bahan pelajaran, murid tanpa diminta pendapatnya menyesuaikan diri dengan pelajaran itu,&lt;br /&gt;9. guru mencampur adukkan kewenangan ilmu pengetahuan dan jabatannya yang dilakukan untuk menghalangi kebebasan murid,&lt;br /&gt;10. Guru adalah subyek dalam proses belajar dan mengajar, murid hanya obyek belaka. Penempatan murid seperti ini jelas tidak sesuai dengan kodrat manusia yang terlahir sebagai subyek yang harus mengada ke dunia secara bebas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagai solusi dalam mengatasi penindasan yang telah masuk dalam lapangan pendidikan ini Freire menawarkan konsep pendidikan terhadap masalah tersebut sebagai jalan keluar. Konsep ini menempatkan guru dan siswa sebagai subyek dalam sebuah proses pendidikan. Dan realitas dunialah yang dijadikan obyek. Tujuan pendidikan sebagai tabungan harus diganti dengan penghadapan pada masalah-masalah manusia dalam hubungannya dengan dunia. Kini pendidikan bukanlah lagi sebuah proses transfer ilmu dari guru dan murid, sebab keduanya kini bersama-sama dalam suasana dialogis membuka cakrawala realita dunia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dialog merupakan sarana yang harus ada dalam proses ini. Sehingga pendidikan menjadi tanggung jawab bersama guru dan murid. Proses dialog inipun tidak boleh menjadi proses yang hegemonis dan dominatif yang berpihak pada guru, namun haruslah menjadi sebuah motivasi munculnya kesadaran-kesadaran kritis baik dari guru ataupun murid khususnya. Sehingga proses ini akan senantiasa merefleksikan antara pengalaman murid dan guru. Di sini guru menyajikan pelajarannya kepada murid sebagai bahan pemikiran mereka dan menguji kembali pemikirannya terdahulu ketika murid mengemukakan hasil pemikirannya sendiri. Peran pendidik disini adalah bersama-sama dengan murid menciptakan pengetahuan sejati yang tidak bersifat dogmatis. Murid disini diusahakan dapat mengungkapkan segala sesuatu dengan bahasa mereka, pendapat mereka, sebagai sebuah proses yang selalu menjadi dan belum selesai. Karena manusia adalah makhluk yang terus manjawab tantangan realitas dunia agar ia dapat mengada dengan sejati, dan bukan diatur, ditentukan atau didikte orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Konsep yang kedua ini tentu akan menghasilkan murid yang mampu memandang dengan kritis terhadap dunia, mampu berpikir bebas yang dengan demikian akan berpandangan optimis terhadap dunianya. Sebaliknya pendidikan gaya bank akan menghasilkan murid-murid yang berpandangan fatalis terhadap dunianya. Ia akan menjadi orang bentukan yang harus tunduk pada aturan-aturan yang sesungguhnya bisa jadi diciptakan segelintir manusia demi kepentingan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2203270279597566761-5345574675428010650?l=jelasguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelasguru.blogspot.com/feeds/5345574675428010650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/2009/09/metode-pembelajaran-dialogis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default/5345574675428010650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default/5345574675428010650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/2009/09/metode-pembelajaran-dialogis.html' title='Metode Pembelajaran Dialogis'/><author><name>gurumerdeka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11106180665587401728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqIBNJqvIyI/AAAAAAAAAAY/eOVtS9YEjew/S220/Bandung+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SrDzLt8oYcI/AAAAAAAAABA/tQgOckAJd8Q/s72-c/dialog+metode.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2203270279597566761.post-1009266855357357782</id><published>2009-09-11T22:43:00.000-07:00</published><updated>2009-09-12T20:33:18.988-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips menjadi guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profesi guru'/><title type='text'>Apa yang Membuat Saya Mantap Menjadi Guru?</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqtmOeeybEI/AAAAAAAAAA4/BAKgzhNGUuQ/s1600-h/Good+teacher.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380506578710588482" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 178px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqtmOeeybEI/AAAAAAAAAA4/BAKgzhNGUuQ/s200/Good+teacher.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tahun kesembilan saya menjadi guru, belum terlalu lama memang, namun bukan berarti kurang waktu untuk menyatakan diri bahwa ; Guru adalah profesi saya. Profesi yang dengan keyakinan mantap akan saya tekuni selama menjalani kehidupan di dunia ini. Jika pada awalnya memang penuh keraguan, namun seiring berjalannya waktu dan pelajaran hidup yang saya temui, saya meyakini profesi ini tidak sekedar menafkahi hidup saya namun membuat saya kaya raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman-pengalaman yang merupakan puzzel kehidupan, yang membuat saya memiliki kebanggaan dengan sebutan guru pada diri saya itu diantaranya adalah apa yang akan saya paparkan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Saya selalu mendapatkan sesuatu pada saat saya memberi. Anda punya uang, bagikan uang Anda secara percuma, saya yakin uang Anda akan habis. Namun tidak demikian dengan pengetahuan, saat Anda bagikan, pengetahuan Anda akan sesuatu semakin berkembang. Menakjubkan bukan, tanpa pengetahuan bisnis yang memadai saya ternyata telah menjadi investor yang selalu untung. Pertanyaan dan sanggahan murid-murid, terus memperkaya pengetahuan saya. Pengamatan mereka yang tak selalu sama dengan pengamatan saya, menambah wawasan dan paradigma saya dalam melihat sesuatu. Belum lagi jika murid-murid saya mulai membawa hal-hal baru bagi saya, sungguh menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Saya sering mendapatkan pencerahan. Bagi saya setiap pribadi itu unik, tak jarang saya mendapatkan inspirasi yang menyenangkan saat bersama murid-murid. Intuisi yang entah bagaimana datangnya selalu saja muncul, saat saya mengalami kebuntuan. Ide-ide begitu saja berloncatan saat membahas sesuatu bersama mereka, itu tak terpikirkan sebelumnya. Entah sudah berapa banyak, ide-ide itu tertata rapi di file komputer. Sehingga saat kehilangan gairah, membaca kembali apa yang pernah ditulis menjadi hiburan tersendiri, yang pada akhirnya perlahan memompa hidup pada kegairahan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Profesi ini mengontrol hidup saya. Banyak orang tak suka dikontrol, tak terkecuali saya. Semakin dikontrol, maka akan semakin banyak pula siasat dibuat untuk mengelabui pengontrol, sepertinya itu adalah hal yang lazim dilakukan, meskipun keliru. Sungguh tidak nyaman, hidup dibawah kendali orang lain. Namun bagaimana jika yang mengontrol hidup kita adalah diri sendiri, saya yakin banyak diantara kita sepakat begitulah seharusnya. Dan ternyata dengan menjadi guru, saya mengalami hal tersebut.&lt;br /&gt;Saya merasa tidak nyaman jika saya tidak mengenakan helm saat naik motor di jalan raya, bukan karena takut kena tilang, tetapi saya merasa tidak nyaman jika kena tilang dan polisi tahu saya adalah seorang guru. Demikian juga jika saya akan pergi ke tempat-tempat yang menurut saya punya daya pikat yang lumayan besar, namun keinginan itu terus saya pendam, sekali lagi karena ada sesuatu yang mengendalikan saya ; profesi saya sebagai seorang guru. Dan masih banyak hal lain lagi yang karena saya adalah guru maka saya mencoba sekuat tenaga tidak melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Saya adalah seorang publik figur. Berapa banyak diantara kita yang menginkan untuk menjadi orang terkenal, karena dengan menjadi orang terkenal banyak urusan jadi mudah dilakukan. Hingga hari ini, saya masih melihat ’syndrome idol’ di negeri ini. Bukankah dengan menjadi guru, sebenarnya seseorang sudah menjadi publik figur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prilaku kita dikuntit siswa, bahkan tak jarang nama kita pun digunjingkan oleh mereka. Bayangkan jika tahun ini adalah tahun ke sembilan saya, dan jika ada 700 orang di sekolah saya saat ini, dan angka keluar masuk ada 200 orang saja, maka sudah ada kurang lebih 2000 orang yang mengenal saya, belum lagi ditambah orang tuanya. Angka yang cukup sulit untuk sepenuhnya mengenal mereka bukan? Tetapi pasti tidak demikian dengan mereka. Sehingga wajar jika di banyak tempat saya menjumpai seseorang yang memanggil dan mengenal saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah begitu, layaknya seorang pesohor, segala urusanpun menjadi lebih mudah (tidak mesti harus kolusi dan nepotis), kita akan dilayani sebagaimana seharusnya, saya pikir itu sudah cukup melegakan untuk kondisi negeri ini. Bahkan tak jarang, alumni yang berhasil menceritakan keberhasilannya yang membuat Anda diyakinkan akan keberartian hidup menjadi guru, dan ujung-ujungnya Anda pun ditraktir. He..he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Kebahagiaan terbesar saya adalah menyaksikan bagaimana mereka mengekspresikan kebahagiaan. Sepertinya ini klise, tetapi ini terjadi dalam kehidupan saya. Melihat seorang murid tersenyum karena keberhasilan dan saya terlibat dalam prosesnya, sungguh sangat menyejukkan. Terlebih jika mereka mengirim kabar saat sudah tak lagi menjadi murid di sekolah dan menyampaikan informasi kebahagiaan, ada kepuasan yang tak terkira. Dan masih banyak hal lain lagi yang saya alami, dan akan terus bertambah seiring berjalannya sang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah bagian kecil dari apa yang saya alami secara psikologis dan sosial, namun setidaknya cukup membangkitkan kegairahan dan kepercayaan diri saya. Saat saya memaparkan ini, bukan berarti saya tak pernah mengeluh. Namun bukankah orang yang bahagia adalah orang yang berhasil mengatasi keluhannya dengan menikmati kebahagiaan yang berhasil diraihnya. Selalu ada manis di tengah rasa pahit sekalipun, dan jika sudah demikian maka kebahagiaan akan terus terpancarkan. Semoga. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2203270279597566761-1009266855357357782?l=jelasguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelasguru.blogspot.com/feeds/1009266855357357782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/2009/09/apa-yang-membuat-saya-mantap-menjadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default/1009266855357357782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default/1009266855357357782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/2009/09/apa-yang-membuat-saya-mantap-menjadi.html' title='Apa yang Membuat Saya Mantap Menjadi Guru?'/><author><name>gurumerdeka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11106180665587401728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqIBNJqvIyI/AAAAAAAAAAY/eOVtS9YEjew/S220/Bandung+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqtmOeeybEI/AAAAAAAAAA4/BAKgzhNGUuQ/s72-c/Good+teacher.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2203270279597566761.post-2575471922212590279</id><published>2009-09-04T22:54:00.000-07:00</published><updated>2009-09-12T20:31:15.855-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profesi guru'/><title type='text'>Menjadi guru ; pilihan dalam kebimbangan? Jelas tidak!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqH9p7YEX-I/AAAAAAAAAAM/T6A1nm-ktLk/s1600-h/teacher-confuse.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377858326812188642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 184px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqH9p7YEX-I/AAAAAAAAAAM/T6A1nm-ktLk/s200/teacher-confuse.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dulu ketika aku kecil dan baru duduk di bangku SD saat guruku bertanya; “anak-anak cita-cita kalian kelak menjadi apa?” Hampir separuh dari isi kelas menjawab ingin menjadi guru. Apalagi di kalangan siswa cewek, kebanyakan memfavoritkan cita-cita tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun ketika seragam sudah berganti banyak yang kemudian merevisi cita-cita SDnya, bahkan ketika aku sudah duduk di bangku SMA cita-cita sebagai guru nyaris tak terdengar. Apalagi saat-saat aku sudah duduk di bangku kuliah, bahkan seseorang yang jelas-jelas sudah mengambil jurusan FKIP ataupun IKIP terang-terangan tak ingin menjadi guru. Diperparah lagi krisis identitas itu tidak hanya menyerang para calon guru tetapi juga institusi para calon guru. Lihat saja nyaris semua IKIP mereformasi dirinya menjadi Universitas yang tak melulu melahirkan seorang guru. Muncul pertanyaan, sebenarnya ada apa dengan profesi yang satu ini? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Profesi guru di mata teman-temanku dan juga aku dalam hati kecilku merupakan profesi yang tidak elit. Mulia, jelas kamipun tak bisa menyangkal tetapi sayang ‘murahan’, artinya banyak yang dibayar murah atau bahkan banyak yang melakukannya karena memang tak punya pilihan. Dalam sulitnya mencari pekerjaan, ya sudahlah mengajarpun jadi. Kalau sudah begitu tentu bukan pada tempatnya menanyakan kompetensi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda bertanya dari sekian banyak mahasiswa yang belajar di sekolah para calon guru alias FKIP atau IKIP, berapa persen yang dengan tegas menjawab jurusan tersebut merupakan pilihan pertama? Saya yakin pasti tak banyak, apalagi Anda bertanya nanti Anda mau mengajar di mana, wah pasti jawabannya macam-macam yang lagi-lagi tak menyinggung institusi sekolah. Aneh memang, tetapi nyata. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin profesi yang selalu disanjung mengalami sedemikian krisis, dan selalu dicoba dihindari namun ajaibnya banyak yang terdampar dan berkecimpung di bidang ini. Inilah keajaiban itu! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya juga adalah seorang guru dalam pengertian yang sesungguhnya, mengajar mata pelajaran di sebuah sekolah. Menemukan jalan dan kemudian mantap menekuni profesi ini, bukanlah pergumulan sesaat melainkan pergumulan yang cukup panjang dan boleh dibilang melelahkan.&lt;br /&gt;Awalnya aku memang mengalami kebimbangan saat tahu kemana arah pendidikan yang sedang kutempuh itu bermuara. Tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jelas visi dan misi lembaga ini diarahkan bagi terciptanya pengajar-pengajar yang mumpuni di bidangnya. Tetapi di sisi yang lain waktu itu aku menganggap tak ada pilihan lain, entahlah aku yang sengaja menjerembabkan diri atau terjerembab oleh keadaan. Sepertinya keduanya memiliki benang merah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak ingin berlama-lama dalam kebimbangan aku mencari dan terus mencari hal-hal yang bisa kubanggakan dari apa yang kutempuh dan profesiku di kemudian hari itu. Satu demi satu pazzel kebanggaan itu kurangkai, dan hasilnya kini sedang kunikmati. Menjadi guru dan bangga atas profesi itu. Sungguh sebuah proses dengan akhir yang manis.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2203270279597566761-2575471922212590279?l=jelasguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelasguru.blogspot.com/feeds/2575471922212590279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/2009/09/menjadi-guru-pilihan-dalam-kebimbangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default/2575471922212590279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2203270279597566761/posts/default/2575471922212590279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelasguru.blogspot.com/2009/09/menjadi-guru-pilihan-dalam-kebimbangan.html' title='Menjadi guru ; pilihan dalam kebimbangan? Jelas tidak!'/><author><name>gurumerdeka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11106180665587401728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqIBNJqvIyI/AAAAAAAAAAY/eOVtS9YEjew/S220/Bandung+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9TVJLXJWSJw/SqH9p7YEX-I/AAAAAAAAAAM/T6A1nm-ktLk/s72-c/teacher-confuse.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
